Analisis Puisi

Analisis puisi Maskumambang karya Sarabunis Mubarok

 

 

Maskumambang

 

Ribuan tahun sebelum Yesus, pada masa

dingin yang lama. Aku telah disiapkan menjadi

pengganti Adam untuk merindukan bau perempuan.

Sebau lumut yang menyulut bayang-bayang kabut

pada sajak-sajak yang menjemput. Sebau rumput

yang mengitari jeritan liar pada mantra garis tangan.

 

Di tanah lembab, bersama punggung binatang

yang memuai ke hutan-hutan. Ribuan tahun

setelah Nuh menurunkan berpasang-pasang

mahluk di pulau-pulau surut. Aku rupanya

telah disiapkan untuk berlayar bersama seratus

perahu yang dibangun di hutan-hutan.

 

Tapi lenguh kampung halaman mengirim kelambu

pada sajakku, ribuan hari setelah kakek buyutku

berpoligami. Bisakah mengucurkan kantuk, ketika

di jalan buntu tersusun serdadu. Bisakah bersembunyi,

ketika mimpi terus menari, menyihirku menjadi siput

yang berkarat di pohon-pohon yang terpahit.

 

(Sarabunis Mubarok, 2003)

 

 

1.       Metode Puisi

  1. Diksi

Dilihat dari pemilihan kata untuk judul, penyair memilih kata Maskumambang yang secara leksikal mempunyai makna tembang macapat yang menceritakan kesedihan. Kata-kata yang dipilih pengarang dominan mengandung vokal u, untuk membangun gambaran suasana sedih dan haru. Kata-kata yang dipilih pengarang sebenarnya merupakan kata-kata yang mudah dipahami dan banyak digunakan sehari-hari, namun frasa-frasa yang dibangun rupanya membutuhkan pemikiran yang dalam untuk menggali makna sehingga butuh waktu untuk membaca berulang-ulang. Kepandaian penyair membangun makna terlihat dari pemilihan kata dan membangunnya menjadi frasa-frasa sehingga menimbulkan makna. Misalnya,

 /ketika mimpi terus menari, menyihirku menjadi siput

yang berkarat di pohon-pohon yang terpahit/, tersimpan begitu dalam dan kaya akan makna.

 

  1. Pengimajian

Melalui kalimat pada bait pertama, sebenarnya penyair sudah dapat membangun bayangan-bayangan pada pikiran pembaca. Namun, /Sebau lumut yang menyulut bayang-bayang kabut pada sajak-sajak yang menjemput. Sebau rumput yang mengitari jeritan liar pada mantra garis tangan./, mempertegas bahwa sebelum Tuhan menciptakan alam semesta serta makhluk-makhluk yang mengisinya Tuhan pun terlebih dahulu telah membuat/menuliskan qada dan qadar, Tuhan telah menuliskan garis hidup semua mahluknya. Begitupun aku, telah disiapkan Tuhan untuk menjadi laki-laki keturunan Adam yang selalu merindukan bau perempuan jauh-jauh sebelum Tuhan menciptakan Yesus/Isa sebagai pengganti Adam sebagai lelaki yang merindukan bau perempuan. Bau perempuan yang sebau lumut yang tumbuh liar pada media-media lembab yang sering dilalui air. Aku, adalah pengganti Adam, adalah lelaki yang akan selalu memimpikan perempuan untuk mendampingi hidupnya. Aku, sebelum penciptaan wujud lahiriannya oleh Tuhan sebenarnya telah digariskan untuk hidup berpasangan dengan perempuan. /Tapi lenguh kampung mengirim kelambu pada sajakku, ribuan hari setelah kakek buyutku berpoligami./, aku terus dibayangi oleh sejarah, oleh lelaku kakek buyutnya hingga /ketika mimpi terus menari/ menyihirnya menjadi siput yang berkarat di pohon-pohon yang terpahit. Diksi pada puisi di atas membangun citraan pada pembaca, yakni citraan penciuman, pendengaran, dan penglihatan.    

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                

  1. Kata konkret

Untuk memperkonkret masa-masa penciptaan qada dan qadar manusia oleh Tuhan, maka penyair menggunakan /Ribuan tahun sebelum Yesus, pada masa dingin yang lama./. Kenapa tidak ribuan tahun sebelum Adam? Karena kalimat selanjutnya /Aku telah disiapkan menjadi pengganti Adam untuk merindukan bau perempuan./. /Di tanah lembab/ digunakan penyair untuk memperkonkret masa-masa aku dalam kandungan ibunya.

Untuk memperkonkret keadaan dirinya yang merasa kecil dan tidak berharga setra tidak bisa banyak berbuat apa-apa, penyair menggunakan / ketika mimpi terus menari, menyihirku menjadi siput yang berkarat di pohon-pohon yang terpahit./.

 

  1. Bahasa Piguratif

Metafora : /Aku telah disiapkan menjadi pengganti Adam untuk merindukan bau perempuan. Sebau lumut yang menyulut bayang-bayang kabut pada sajak yang menjemput. Sebau rumput yang mengitari jeritan liar pada mantra garis tangan./ Personifikasi : /Tapi lenguh kampung halaman mengirim kelambu/ pada sajakku, ribuan hari setelah kakek buyutku/, juga / ketika mimpi terus menari, menyihirku menjadi siput yang berkarat di pohon-pohon yang terpahit./

 

  1. Versifikasi

Rima; untuk mengolah bunyi pada puisinya, penyair memilih diksi-diksi yang mempunyai persamaan bunyi akhir, seperti /Sebau lumut yang menyulut bayang-bayang kabut pada sajak-sajak yang menjemput./. Hal tersebut dimaksud oleh pengarang untuk membangun bunyi yang estetik bagi pembaca. Selain itu, pemilihan diksi yang dominan vokal u juga membangun keindahan bunyi yang ekspresif.

Ritma puisi ini akan terasa santai jika dibaca dan tidak menggebu-gebu. Pergantian bunyi silih berganti secara teratur yang menggambarkan keadaan sukma penyair. Variasi tekanan akan muncul pada setiap pergantian vokal pada setiap diksi yang digunakan. Metrum / metrum puisi ini ketika dibaca akan terasa lembut dan santai, haru dan penuh kesabaran. Metrum puisi ini akan tetap, yakni santai, penuh penjiwaan dan haru, serta menekankan pada vokal-vokal u pada setiap diksi.

 

  1. Tipografi

Tipografi puisi ini lurus sejajar berbentuk huruf B dengan membaginya ke dalam tiga bait yang setiap bait terdiri dari enam larik. Dengan bentuk yang lurus seperti ini, penyair tidak menyimpan kode apapun sehingga memudahkan untuk dibaca. Penyair menggunakan bentuk tata wajah yang konvensional dalam sajaknya ini yakni bentuk lurus sehingga tidak menimbulkan penafsiran lain dari pembaca.

 

2.       Hakikat Puisi

  1. Tema

Puisi ini bercerita tentang takdir manusia yang telah disiapkan atau dituliskan Tuhan sebelumnya. Jauh-jauh sebelum penciptaan makhluk Tuhan yang pertama sekalipun takdir atau qada dan qadar manusia serta alam raya ini telah dituliskan Tuhan lterlebih dahulu. Puisi ini menceritakan takdir seorang lelaki itu dari mulai Adam pun adalah untuk berpasang-pasangan dengan perempuan. Begitu juga Aku dalam puisi ini. Menurut pemikirannya ia telah disiapkan Tuhan untuk menjadi pengganti Adam. Bahkan Aku meyakini sebelum Nuh diperintahkan Tuhan untuk berlayar dan meninggalkan kaumnya, ia pun telah disiapkan Tuhan untuk berlayar pula, untuk mengarungi hidup bersama seratus perahu yang dibangun di hutan-hutan.  Namun, takdir yang telah dituliskan Tuhan bisa saja berubah. Takdir yang telah dituliskan beratus-ratus tahun sebelum penciptaan alam raya pun masih bisa berubah dalam waktu beberapa hari. Tuhan-lah yang berkuasa. Aku yang telah disiapkan untuk merindukan bau perempuan ternyata dikalahkan oleh kakek buyutnya yang berpoligami. Dalam hal ini, pengarang menyoroti kehidupan manusia, entah itu pengalaman pribadinya atau bukan. Menurut saya, tema yang melatarbelakangi puisi ini adalah sosial-religi, sosial yang diberi sentuhan keagamaan. Mengapa sosial-religi? Karena menurut saya, penyair dalam puisi tersebut bercerita tentang sisi kehidupan Aku. Sisi kehidupan manusia dilihat dari sudut pandang keagamaan. Penyair mengaitkannya dengan pengalaman atau kenyataan dalam agama Islam.

 

  1. Perasaan

Pembaca akan dihadapkan pada perasaan yang terbangun ketika membaca sajak ini. Pembaca akan merasa terharu ketika membaca sajak ini. Maskumambang, tembang yang bercerita tentang kesedihan.

 

  1. Nada dan Suasana

Nada penyair dalam sajaknya ini adalah bercerita, berterus terang kepada pembaca tentang kehidupannya. Penyair hanya ingin berbagi pengalaman dengan pembaca lewat sajaknya ini. Penyair menciptakan puisi ini dilatar belakangi oleh suasana hati yang galau, sedih dan haru.

 

  1. Amanat

Setelah membaca sajak ini secara berulang, amanat yang bisa saya tangkap adalah kita sebagai manusia hidup di dunia ini sebenarnya sudah direncanakan oleh Tuhan. Apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang sebenarnya sudah dituliskan Tuhan jauh-jauh sebelum penciptaan makhluk-makhluknya. Akan tetapi, tidak semua yang telah dituliskan itu akan berjalan dan terus berjalan sesuai dengan skenario. Tuhan bisa saja merubah jalan hidup seseorang jika Dia menghendakinya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: