Analisis Cerpen

Analisis cerita pendek Lembu di Dasar Laut karya Afrizal Malna dengan menggunakan pendekatan Struktural Semiotik (Objektif dan Semiotik)

 

 

Tema cerita pendek ini menurut saya adalah berpijak pada permasalahan kehidupan kelompok manusia yang menjadi korban kebijakan pembangunan yang tidak merata dan lebih mementingkan segelintir orang. Kemudian muncul permasalahan pada cerita pendek ini berupa perubahan tatanan kehidupan masyarakat serta sudut pandang kehidupan masyarakat pinggiran kota yang hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan ruang akibat adanya kebijakan pembangunan yang digulirkan. Kemajuan pembangunan kota yang pesat telah menarik pendatang dari desa yang bekerja di perusahaan-perusahaan di kota. Tema ini cerita ini menurut saya berkisar di sekitar sosial-politik. Hal ini dapat dilihat pada paragraf  sebelas di bawah ini.

 

Sejak menghilangnya lembu itu, kota tumbuh pesat. Penggusuran dan pembakaran kampung terjadi di mana-mana. Gedung-gedung baru berdiri, jalan-jalan baru, perumahan-perumahan baru. Arus listrik menciptakan gelombang kehidupan baru di kota. Satelit komunikasi lebih merapatkan lagi gugusan bintang-bintang di semesta.

 

Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa cerita ini ingin menceritakan perkembangan kota, pertumbuhan teknologi yang mengorbankan masyarakat. Hal tersebut memicu keresahan di kalangan masyarakat pinggiran yang permukimannya ditengarai menjadi sasaran penggusuran. Kebakaran sengaja dibuat pemerintah untuk memudahkan penggusuran, karena dengan penggusuran yang terang-terangan biasanya akan menimbulkan pertentangan. Masyarakat kecil hanya menjadi korban kebijakan politik pembangunan. Tatanan kehidupan masyarakat yang tadinya tentram menjadi kian bergejolak. Pembangunan hanya menumbuhkan keironisan. Di samping pembangunan yang kian pesat, masih tumbuh juga kemiskinan dan kehidupan yang tidak layak. Pada paragraf tiga kita akan mendapat gambarannya.

 

Di tengah perkembangan kota yang tambah gemerlap, kehidupan kampung rasanya kian khas. Bau kehidupan tercium lebih keras di sini, seperti campuran bau manusia dengan besi. Kalimatny pendek-pendek, sama dengan ruang petak-petakyang harus kami tempati berhimpitan. Kami harus membuat langit sendiri di loteng dengan seng, plastik dan tangga dari kayu-kayu bekas.

 

Orang-orang tidak lagi memikirkan orang lain di sekitarnya. Kehidupan masyarakat kampung yang tadinya begitu kental dengan adat istiadatnya kini telah hilang. Semuanya hilang akibat popularitas uang. Semuanya berganti dengan hadirnya tempat-tempat yang menggambarkan prestise. Seperti kita lihat pada paragraf 12 di bawah ini.

 

Saya naik taksi dari Glodog ke Ciledug, suatu hari. Melewati jalan-jalan cacing. Menghindari kepadatan lalu lintas Harmoni hingga Sudirman. “Popularitas kampung telah berganti,” kata sopir taksi. “Sekarang tak ada lagi jawara. Jagoan satu-satunya adalah duit.” Nama-nama kampung yang dulu terkenal seperti Sentiong, Poncol, Tanah Tinggi, Tanah Sereal, Roxi, Jelambar, atau Matraman kini telah berganti dengan Bintaro, Pondok Indah, Cinere Permai, Lippo City hingga apartemen. Jalan layang beterbangan di udara kota.

 

Jadi, dari penjelasan di atas saya berkesimpulan bahwa tema cerita pendek Lembu di Dasar Laut adalah sosial-politik. Permasalahan yang ingin diangkat cerita ini adalah masalah perubahan tatanan masyarakat ibukota yang rusak dan terpinggirkan akibat kebijakan-kebijakan politik dalam pembangunan. Namun, di tengah pesatnya pembangunan, Pemerintah tidak memperhatikan orang-orang pinggiran yang menjadi korban kebijakan pembangunan tersebut. Pembangunan menjadi kian tidak merata.

Tema cerita pendek ini termasuk ke dalam jenis tema nontradisional. Tokoh Saya yang pada awalnya bertugas membawa dan mengembangkan cerita akan diharapkan pembaca sebagai tokoh protagonis, tokoh yang akan sangat berjasa pada akhir cerita. Namun, kenyataannya secara mengejutkan cerita ini tidak memberikan hal tersebut kepada pembaca. Tokoh Saya sebagai tokoh yang tidak disenangi pembaca pada akhir cerita, tokoh jahat, tokoh yang dikucilkan masyarakat akibat kelakuannya yang bejat sampai ia harus mendapat hukuman dan ia memilih hukumannya sendiri dengan cara menenggelamkan dirinya ke dasar laut.

Kenyataan yang dapat memberikan gambaran bahwa tema cerita pendek ini bertema nontradisional adalah paragraf  15 seperti yang saya kutip di bawah ini.

 

Sejak itu rasanya telah banyak yang hilang. Hubungan dengan Kiai, Pak RT, atau Pak RW, yang sebelumnya seperti orang tua sendiri, kini seperti berhubungan dengan birokrat. Sumbangan dan iuran jumlahnya kian banyak, beragam. Kiai juga lebih sering meminta sumbangan mesjid dan pengajian. Istrinya tiga. Banyak ketentuan iuran kampung tidak lagi dibicarakan bersama warga. Langsung diputuskan RT. Mereka juga memperoleh dana kian besar dari berbagai iuran ruko-ruko yang berdiri mengelilingi kampung.

 

Tahap awal cerita dimulai dari paragraf pertama sampai paragraf lima. Pada bagian ini sudah mulai memperkenalkan berbagai hal yang menjadi informasi bagi pembaca. Sudah melukiskan setting, tokoh, dan sebagian yang menjadi akar permasalahan yang akan menimbulkan konflik pada cerita pendek ini. Sebagai bahan penjelasan kita dapat melihat paragraf lima, ‘Binatang yang berjalan lamban ini, seperti telah mengenal seluk-beluk kampung. Tak ada padang rumput di sini tetapi lembu itu berjalan tenang dari gang ke gang lainnya. Orang tatk tahu dari mana datangnya lembu itu. Berhari-hari warga membicarakannya. Beberapa pemuda menyarankan agar lembu itu dipotong atau dijual. Ibu-ibu tidak setuju. Mereka mulai merasa sayang pada lembu tiu. Lenguhnya membangkitkan semacam harga diri yang dalam, yang telah lam terpuruk di kampung kami.’.

Kemudian, pembaca juga sudah dapat membayangkan permasalahan hadir dalam tahap awal cerita pendek ini. Pada paragraf ketiga pembaca dapat melihatnya.

 

Di tengah perkembangan kota yang tambah gemerlap, kehidupan kampung rasanya kian khas. Bau kehidupan tercium lebih keras di sini, seperti campuran bau manusia dengan besi. Kalimatnya pendek-pendek, sama dengan ruang petak-petakyang harus kami tempati berhimpitan. Kami harus membuat langit sendiri di loteng dengan seng, plastik dan tangga dari kayu-kayu bekas.’. pada paragraf ketiga tersebut, sudah mulai muncul masalah yang nantinya akan menjadi sumber konflik.

 

Pemunculan masalah dimulai dari paragraf enam sampai paragraf 13. Pada tahap ini permasalahan sudah benar-benar dimunculkan. Paragraf-paragraf tersebut menampilkan berbagai permasalahan yang akan menjadi tegang pada tahap tengah cerita. Pada paragraf 12 kita dapat mengambil contohnya.

 

Saya naik taksi dari Glodog ke Ciledug, suatu hari. Melewati jalan-jalan cacing. Menghindari kepadatan lalu lintas Harmoni hingga Sudirman. “Popularitas kampung telah berganti,” kata sopir taksi. “Sekarang tak ada lagi jawara. Jagoan satu-satunya adalah duit.” Nama-nama kampung yang dulu terkenal seperti Sentiong, Poncol, Tanah Tinggi, Tanah Sereal, Roxi, Jelambar, atau Matraman kini telah berganti dengan Bintaro, Pondok Indah, Cinere Permai, Lippo City hingga apartemen. Jalan layang beterbangan di udara kota.’. Atau pada paragraf sebelas pun kita sudah dapat melihat permasalahan yang muncul. Masalah-masalah yang akan menjadi begitu kompleks. ‘Sejak menghilangnya lembu itu, kota tumbuh pesat. Penggusuran dan pembakaran kampung terjadi di mana-mana. Gedung-gedung baru berdiri, jalan-jalan baru, perumahan-perumahan baru. Arus listrik menciptakan gelombang kehidupan baru di kota. Satelit komunikasi lebih merapatkan lagi gugusan bintang-bintang di semesta.

 

Permasalahan yang hadir dalam cerita pendek ini akan menjadi semakin rumit pada paragraf-paragraf perumitan yang dimulai dari paragraf 14 sampai paragraf 24. Pada tahap ini, permasalahan menjadi begitu kompleks dan tegang. Konflik menjadi semakin berkembang dan intensitasnya pun meningkat. Berbagai permasalahan timbul dan terlihat begitu kental. Gambaran perumitan masalah dapat kita lihat pada paragraf 14.

 

Lalu lintas kian padat. Kampung mulai didatangi banjir. Tak hanya karena hujan. Juga banjir pendatang dari desa yang bekerja di pabrik-pabrik, mengontrak di kampung kami. Jumlahnya kian mengatasi penduduk asli. Berbagai bahasa daerah serta kebiasaan lain kian mewarnai kampung. Warna yang pecah, kehilangan kesatuannya. Kami adalah pintu darurat untuk mereka yang memasuki kota tanpa apa-apa.

 

Pada paragraf lain kita dapat melihat perumitan masalah muncul. Pada paragraf 23 misalnya,

 

Tidak berapa lama kemudian saya mendengar pintu diketuk. Okot datang. Isak tangisnya masih tersisa. Ia memohon untuk menginap sementara di rumah kami. Okot akhirnya menginap. Tidur di ruang tamu yang sempit. Istri saya memberinya sebuah bantal dan sarung.

 

Selanjutnya klimaks atau puncak cerita pendek ini terdapat di sekitar paragraf 25 sampai 28. Pada paragraf tersebut peristiwa yang menimpa setiap tokoh khususnya tokoh utama mencapai puncak intensitas. Pada tahap ini tokoh utama menjadi pelaku dan penderita peristiwa utama. Peristiwa terjadinya percintaan antara tokoh utama Saya dengan lembu menjadi puncak cerita. Klimaks cerita mengangkat masalah dekadensi moral dan perubahan watak manusia. Hal-hal yang dianggap pemberi ketenangan dan ketentraman ternyata bisa juga memberikan sesuatu yang bernilai buruk. Lembu yang pada matanya menyimpan sumur yang sejuk dan bening ternyata tatapannya bisa menenggelamkan seseorang ke dalam pergolakan batin yang membawanya pada sesuatu yang tidak bermoral. Gambaran terjadinya klimaks dapat dirasakan dan dilihat pada paragraf 26 dan 27 di bawah ini.

 

Birahi saya tiba-tiba bangkit. Saya dekati lembu itu. Ia melenguh dan mulai menciumi telinga saya. Hidumhnya terasa dingin. Di lehernya tergantung genta. Sesuatu memang sedang berubah di kampung ini, di kota kami. Saya mulai menciumi punggungnya, saling bergumul. Seluruh pakaian saya telah lepas. Pandangan matanya seperti roh pohon yang dicabut dari akarnya. Saya masuk ke dalam semesta itu lewat lenguhnya. Bunyi genta di lehernya membuat halaman-halaman lain mengenai keadilan. Seperti padang hijau tanpa batas. Tapi tak ada gambaran mengenai hukum di sana. Tak ada.

Setelah semuanya usai, saya lihat sudah banyak warga mengelilingi saya. Saya masih berpelukan dengan lembu itu. Masih bugil. Isak tangis istri saya terdengar. Okot menggendong anak saya. Warga kemudian menggiring saya dan lembu itu. Merekaa tak tahu ke pengadilan mana saya harus dikirim. Hukum apa yang patut dikenakan? Saya memilih dan memutuskannya sendiri. “Biarlah saya dan lembu itu menenggelamkan diri ke dasar laut.”

 

Paragraf-paragraf selanjutnya  mulai dari paragraf  29 sampai dengan paragraf 32 menjadi tahap penyelesaian cerita. Pada tahap ini grafik cerita mulai bergerak menurun. Peristiwa-peristiwa dan ketegangan menjadi mengendor. Namun, pada tahap ini tidak terdapat jalan keluar atas seluruh peristiwa sebelumnya. Pada paragraf 31 misalnya, pembaca akan merasakan bahwa cerita sudah mulai menurun

 

Seluruh tubuh saya dan lembu akhirnya penuuh dengan air laut. Kami mulai tenggelam. Telah kehilangan tanah, kehilangan dasar untuk berpijak. Kami berdua melayang bersama ikan-ikan. Saya sempat melihat akar pohon yang tumbuh di kampung kami, ternyata menjalar luas di dasar laut, tak terbatas. Saya tahu ke sanalah tujuan kami.

 

Peristiwa-peristiwa yang selanjutnya disebut sebagai peristiwa fungsional maupun peristiwa  kaitan juga terdapat dalam cerita ini. Namun tidak terdapat peristiwa acuan. Jumlah peristiwa fungsional jika dibandingkan dengan jumlah peristiwa kaitan kurang lebih akan sebanding. Maka dari itu, cerita ini cenderung mempunyai alur yang longgar. Ada beberapa peristiwa yang bisa digolongkan menjadi peristiwa fungsional juga yang dapat digolongkan sebagai peristiwa kaitan seperti di bawah ini.

Peristiwa fungsional, contohnya terdapat pada paragraf 22 seperti di bawah ini.

 

Rasa heran saya mulai terpecah ketika saya mendengar suara ribut tetangga sebelah. Suara bentakan dan piring yang pecah. Di tengah keributan itu saya masih menangkap suara Okot memaki suaminya, “…kini kau meremehkanku. Kasar padaku. Kau bilang aku mewarisi kebodohan bibiku. Kau bandingkan aku dengan sampah. Kau bilang kau tak lagi membutuhkan aku. Sebab aku b arang buangan. Kau menghinaku. Kau menertawaiku. …bilang ibuku tukang tenung, dan kaumku dungu lantaran suka makan tikus. Lalu terdengar pintu dibanting dan suara tangisan Okot.

 

Dari paragraf ke-22 di atas saya berkesimpulan bahwa peristiwa dalam paragraf tersebut merupakan peristiwa fungsional. Karena dengan adanya peristiwa tersebut pembaca akan merasakan peristiwa-peristiwa selanjutnya mempunyai hubungan yang logis dengan peristiwa sebelumnya. Misalnya, kita akan tahu siapa Okot, dan mengapa Okot mengungsi dan tidur di ruang tamu rumah tokoh utama. Sehingga jika peristiwa tersebut dihilangkan, kelogisan cerita akan berkurang dan kitaa akan sulit memahami peristiwa selanjutnya.

Pada paragraf sembilan kita akan melihat contoh peristiwa kaitan. Paragraf ini kehadirannya tidak akan terlalu mengganggu kelogisan cerita seandainya paragraf peristiwa tersebut ditanggalkakn atau dihilangkan atau paling tidak inti cerita masih dapat diketahui secara keseluruhan. Perhatikan paragraf tersebut di bawah ini.

 

Kampung kami telah melahirkan sejumlah kenangan kepada manusia, pada hujan saat listrik padam. Beberapa pohon yang tersisa telah habis ditebang, dibangun rumah-rumah petak baru. Hanya tinggal satu pohon yang dibiarkan terus tumbuh di kampung kami. Pohon tua. Tidak ada yang tahu persis usia pohon itu. Yang kami tahu, seluruh warga berusaha melindunginya agar tidak ditebang. Dianggap keramat. Tempat leluhur kampung bersemayam.

 

Alur cerita ini jika dilihat dari kriteria waktu maka termasuk ke dalam plot sorot-balik yang bersifat tidak kronologis. Awal cerita tidak menceritakan awal cerita yang sebenarnya, melainkan tengah-tengah cerita. Pada tahap awal cerita pun peristiwa-peristiwa sudah meruncing dan menuju ke konflik utama cerita. Jalan cerita menjadi tidak runtut. Pada tahap awal cerita sudah disimpan peristiwa-peristiwa yang jika dalam alur/plot progresif akan disimpan pada tahap pemunculan masalah atau mungkin pada tahap perumitan masalah.

Kemudian jika dilihat dari kriteria jumlah, maka alur cerita ini memiliki plot tunggal. Tidak ada peristiwa-peristiwa lain yang dikisahkan adlam cerita ini selain peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan tokoh utama (Saya). Kalaupun alur dalam cerita ini bersifar regresif (sorot-balik) itu tidak berarti cerita ini memiliki tokoh utama lebih dari satu.

Berdasarkan kepadatan alur/plot, cerita ini memiliki plot yang longgar. Cerita akan dibaca secara lambat dan pergantian peristiwa-peristiwa fungsionalnya pun akan terasa lambat karena cerita ini banyak diselingi oleh peristiwa-peristiwa yang kadarnya di bawah kadar peristiwa fungsional (peristiwa kaitan) dan banyak pula diselingi oleh pelukisan situasi dan suasana serta setting walaupun digresi dalam cerita ini tidak terlalu banyak dijumpai.

Kemudian alur cerita ini jika dilihat dari kriteria isi, maka cerita ini memiliki alur pemikiran. Alur cerita ini mengungkapkan masalah yang menyangkut hidup dan kehidupan. Kemiskinan, perkembangan kota yang pesat, penggusuran, atau perbuatan amoral misalnya. Semua itu merupakan penekanan dalam cerita ini. Jika dibandingkan dengan tokoh, maka plot dalam cerita ini lebih mendapat penekanan.

Ending atau akhir cerita ini bersifat solution. Tidak ada kejelasan nasib tokoh pada tahap penyelesaian cerita ini. Pada dasarnya cerita ini belum sepenuhnya berakhir dan masih memungkinkan untuk diteruskan. Dalam hal ini pembaca diberi kesempatan untuk menentukan nasib tokoh cerita ini dalam benak pembaca sendiri. Penyelesaian yang terbuka seperti ini akan sedikit menyulitkan untuk menafsirkan akhir cerita sesungguhnya.

Tokoh dalam cerita ini tidak terlalu banyak, hanya terdapat beberapa tokoh saja yang termasuk ke dalam tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama dalam cerita ini adalah Saya. Saya berperan sebagai tokoh utama yang sebenarnya harus berperan sebagai tokok protagonis. Tetapi Saya menjadi tokoh yang antagonis, yang bukan hero, dan sepertinya akan tidak disenangi pembaca pada akhir cerita. Tokoh saya termasuk ke dalam tokoh bulat, artinya selain sebagai tokoh yang mempunyai karakteristik datar pada awal cerita, ternyata secara mengejutkan di tengah cerita tokoh Saya melakukan perbuatan amoral yaitu bercinta dengan seekor lembu yang membuatnya memilih menghukum dirinya dengan cara menenggelamkan diri ke laut. Dan hal tersebut merupakan simbol dari runtuhnya keimanan tokoh Saya. Tokoh saya pun termasuk ke dalam tokoh berkembang, karena ada perubahan karakteristik yang pada awal cerita bersifat datar dan pada akhir cerita mempunyai karakter yang mengejutkan. Atau pada awal cerita mengemban karakter protagonis dengan cara memberikan berbagai informasi yang negatif dari gambaran situasi cerita kepada pembaca menjadi tokoh yang antagonis pada akhir cerita dengan menjadi seorang laki-laki yang berani bercinta dengan seekor lembu. Tokoh Saya termasuk ke dalam tokoh tipikal karena dia merupakan tokoh yang mewakili warga kampung di pinggiran kota Jakarta.

Tokoh selanjutnya adalah Sopir Taksi. Dia adalah tokoh dengan karakter datar tetapi mempunyai rasa takut terhadap pembakaran kampung dan penggusuran. Tokoh Sopir merupakan tokoh sederhana, peristiwa yang dialaminya tidak membuat perubahan pada karakter dirinya. Ia hadir dalam cerita hanya sekali dan tidak memungkinkan adanya perubahan karakter dari karakternya pada kemunculan yang hanya sekali. Karena tokoh Sopir adalah tokoh sederhana, dia pun termasuk pula ke dalam tokoh statis. Karakternya tidak berubah-ubah. Berbeda dengan tokoh Saya, tokoh Sopir pun termasuk ke dalam tokoh tipikal karena dianggap mewakili warga Jakarta meskipun tidak disebutkan secara analitik bahwa dia merupakan warga asli Jakarta, tetapi ari dialognya dapat diketahui bahwa keberadaan tokoh Sopir dapat dianggap mewakili warga Jakarta.

Tokoh lainnya adalah tokoh Istri Saya dan tokoh Okot. Sama halnya dengan Soppir Taksi, tokoh Istri Saya dan tokoh Okot juga mempunyai karakter datar, namun tokoh Okot mempunyai karakter lebih yakni dia merupakan wanita yang tidak mau diinjak-injak harga dirinya oleh laki-laki, dia mempunyai pendirian keras. Tokoh Istri Saya dan tokoh Okot juga termasuk ke dalam tokoh sederhana, tidak terdapat perubahan karakter dalam kehadiranya pada cerita ini. Istri dan Okot juga merupakan tokoh statis. Tokoh Istri merupakan tokoh tipikal. Dia adalah istri dari Saya yang merupakan warga kampung di pinggiran kota Jakarta. Begitu pun halnya dengan tokoh Okot, dia merupakan tokoh tipikal karena kehadirannya dalam cerita menjadi wakil individu yang menjadi imigran dari Uganda.

Pelukisan tokoh-tokoh dalam cerita ini disampaikan/dilukiskan secara dramatik lewat dialog dan peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Tidak ada sama sekali pelukisan tokoh secara analitik (langsung) oleh pengarang.

Setting cerita ini dilihat dari kriteria tempat berada di ebuah perkampungan kumuh di pinggiran kota Jakarta. Sebuah perkampungan yang tersisihkan oleh pembangunan kota yang pesat sehingga karena keadaannya yang kumuh termasuk ke dalam sasaran penggusuran oleh pemerintah. Perkampungan sempit yang tidak mempunyai kawasan hijau dan hanya memiliki satu pohon tua saja. Perkampungan dengan gang-gang kecil yang rumit dan petak-petak rumah yang sempit. Perkampungan di belakang gedung-gedung ruko yang berdiri megah. Perkampungan yang penduduknya adalah kaum miskin yang sudah kehilangan budaya aslinya akibat banyaknya pendatang dari luar daerah yang bekerja sebagai buruh di perusahaan-perusahaan yang tinggal dan mengontrak di daerah tersebut. Tempat-tempat lainnya yang dapat dimasukkan ke dalam setting tempat cerita ini adalah laut Kamal Muara. Perairan laut yang berada di Utara Kota Jakarta di gugusan Kepulauan Seribu.

Kemudian selain hal-hal di atas, ada beberapa hal yang menyaran kepada tipikal tempat sebagai setting. Tempat-tempat tipikal tersebut antara lain, rumah tokoh Saya, ruang tamu rumah tokoh Saya, di Langgar, pantai Muara Kamal atau di bawah pohon keramat.

Kemudian dari kriteria waktu, setting cerita ini mendapat penekanan setting waktu pada malam hari. Hal tersebut dapat dilihitat pada paragraf 25 yang sudah termasuk ke dalam paragraf klimaks cerita seperti di bawah ini.

 

Tengah malam saya terbangun. Udara terasa gerah. Saya lihat Okot telah tidur. Tidur untuk masa depan, pikir saya. Akhirnya saya berjalan ke luar. Udara terasa lebih sejuk. Napas warga yang terlelap terasa sangat dekat dengan leher saya. Saya berjalan dari gang ke gang, dan sampai pada pohon keramat itu. Saya lihat lembu sedang terbaring di sana. Pandangan matanya redup menatap kepada saya. Benar. Mata itu sebuah sumur yang sejuk dan bening. Mungkin dari mata itu pula udara sejuk menciptakan sungai-sungai di malam ini. Rasa sejuk yang menggenang di punggung saya.

 

Selain setting yang bersifat fisik seperti disebutkan di atas, dalam cerrita ini terdapat pula setting psikologis atau setting yang bersifat spiritual. Hal tersebut antara lain, adat istiadat orang-orang kampung yang masih mempercayai roh leluhur dan hal-hal yang berbau magis, kebiasaan kampung yang tidak bisa menerima perbuatan amoral, atau kemiskinan yang melatar belakangi penduduk kampung. Hal tersebut inilah yang menjadi setting psikologis atau yang bersifat spiritual. Sebagai gambaran fakta dalam cerita, kita dapat melihatnya dalam paragraf

 

Kampung kami telah melahirkan sejumlah kenangan kepada manusia, pada hujan saat listrik padam. Beberapa pohon yang tersisa telah habis ditebang, dibangun rumah-rumah petak baru. Hanya tinggal satu pohon yang dibiarkan terus tumbuh di kampung kami. Pohon tua. Tidak ada yang tahu persis usia pohon itu. Yang kami tahu, seluruh warga berusaha melindunginya agar tidak ditebang. Dianggap keramat. Tempat leluhur kampung bersemayam.

Setting dalam cerita pendek ini termasuk ke dalam kriteria setting tipikal karena setting cerita pendek tersebut dapat dianggap mewakili keadaan atau gambaran kota Jakarta. Dan secara jelas pun dalam cerita disebutkan daerah-daerah yang terdapat di kota Jakarta yang dapat disebut sebagai setting cerita ini, Muara Kamal misalnya. Dalam paragraf  28 di bawah ini contohnya.

 

Seluruh  warga mengantar kepergian saya. Istri saya terus menangis. Saya memilih Muara Kamal untuk menjalankan hukuman. Saya dan lembu mulai berjalan menuju laut. Fajar sebentar lagi tiba. Warga berbaris di bibir pantai. Mereka membawa lampu senter, menyoroti tubuh saya dan lembu. Menciptakan lubang-lubang cahaya tajam yang bergoyang di permukaan laut. Walikota ikut menyaksikan upacara ini, tak mau lepas dari baju safarinya.

 

Fungsi setting dalam cerita pendek ini adalah sebagai atmosfer . Dalam cerita ini terdapat situasi yang mampu membawa pembaca untuk dapat memahami di mana adegan-adegan dalam cerita ini berlangsung. Dalam hal ini, fungsi setting sebagai atmosfer akan mampu membawa pembaca ke dalam cerita secara emosional.  Fungsi setting selain sebagai atmosfer juga sebagai metafor, banyak suasana latar yang menggambarkan atau menjadi pembanding dengan keadaan di luar gambaran setting sesungguhnya.

Gaya bahasa yang dalam cerita pendek ini bergaya metafor, sebagai pembandingan. Untuk dapat memahami dan menangkap pesan sesungguhnya yang ingin disampaikan cerita ini, pembaca membutuhkan pemikiran dan penafsiran lewat kalimat-kalimat, kata-kata, dan dialognya. Cerita ini membutuhkan waktu berulang-ulang dalalm membaca untuk sampai mendapatkan pesan sesungguhnya yang ingin disampaikan cerita ini. Berikut contoh paragraf yang mengandung metafor dalam cerita ini.

 

Segumpal tanah dari kampung kami, yang sempat saya raup, masih memenuhi mulut saya. Tubuh lembu dan tubuh saya mulai menjadi bening, sebening air di dasar laut. Aiih… karang-karang mulai tumbuh, ikan-ikan juga mulai berenang dalam tubuh kami. Seperti sebuah kenangan waktu tanpa batas. Di sana.

 

Selanjutnya gaya pengarang dalam menyampaikan cerita ini penuh dengan bahasa konotatif dan menumbuhkan banyak pertanyaan di benak pembaca. Pesan disampaikan secara dramatik, disembunyikan lewat perumpamaan dan permajasan. Walikota yang tak mau lepas dari baju safarinya misalnya. Pengarang menggunakan walikota dan baju safari sebagai lambang kekuasaan walikota yang angku, yang menyombongkan diri dengan jabatannya. Dalam hal ini, gaya pengarang dalam membawakan cerita ini bernadakan protes dan reaksi pengarang terhadap suatu kenyataan yang dialaminya, terhadap kesewenang-wenangan, pembangunan yang tidak merata, pembangunan yang mengorbankan budaya, kemiskinan dan kaum yang tersisihkan, pejabat-pejabat yang sombong dengan kekuasaannya dapat melakukan segala dengan memaksakan kehendak tanpa adanya keterbukaan, serta rusaknya alam dan lingkungan akibat pembangunan yang tidak memerhatikan efek yang ditimbulkan.

Sudut pandang yang digunakan dalam cerita ini adalah sudut pandang orang pertama berperan ganda, sebagai pengarang juga sebagai tokoh utama. Pengarang sebagai tokoh Saya juga sebagai tokoh utama berperan sebagai pembawa cerita, sebagai pengembang cerita. Berbagai konflik dan peristiwa hampir selalu berhubungan dengan dirinya. Pengarang sebagai tokoh Saya juga sebagai tokoh utama sangat mengetahu berbagai peristiwa yang terjadi dalam cerita ini, juga mengetahui latar belakang tokoh-tokoh lainnya. Dengan menggunakan sudut pandang seperti ini, pembaca menafsirkan seolah-olah tokoh utama sebagai tokoh yang serba tahu tentang segala peristiwa yang terjadi dalam cerita ini.

Nilai-nilai yang terdapat dalam cerita pendek ini antara lain nilai sosial, nilai budaya, nilai politik, dan nilai moral.

Nilai sosial ditunjukkan dengan adanya pembangunan yang tidak merata. Simbol pemisah antara orang-orang miskin dengan orang-orang kaya hanya selebar tembok bangunan. Orang-orang miskin hidup dibelakangi orang-orang kaya, di bawah gedung-gedung megah simbol kemewahan. Orang yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin hidup dalam ruang petak-petak yang begitu kumuh, sempit, dan berhimpit. Hal ini dapat dilihat pada paragraf tiga dalam cerita ini.

 

Di tengah perkembangan kota yang tambah gemerlap, kehidupan kampung rasanya kian khas. Bau kehidupan tercium lebih keras di sini, seperti campuran bau manusia dengan besi. Kalimatny pendek-pendek, sama dengan ruang petak-petakyang harus kami tempati berhimpitan. Kami harus membuat langit sendiri di loteng dengan seng, plastik dan tangga dari kayu-kayu bekas.

 

Selanjutnya, cerita ini pun memiliki nilai budaya yang cukup kental an menjadi titik tolak timbulnya permasalahan. Kepercayaan terhadap hal-hal yang berbau magis seperti kepercayaan terhadap kekuatan roh-roh leluhur dan tempat-tempat keramat menjadi ciri khas penduduk kampung. Namun, hal tersebut hampir punah seiring pesatnya pembangunan. Dalam paragraf sembilan pembaca dapat menemukan nilai budaya terdapat dalam cerita ini.

 

Kampung kami telah melahirkan sejumlah kenangan kepada manusia, pada hujan saat listrik padam. Beberapa pohon yang tersisa telah habis ditebang, dibangun rumah-rumah petak baru. Hanya tinggal satu pohon yang dibiarkan terus tumbuh di kampung kami. Pohon tua. Tidak ada yang tahu persis usia pohon itu. Yang kami tahu, seluruh warga berusaha melindunginya agar tidak ditebang. Dianggap keramat. Tempat leluhur kampung bersemayam.

 

Selain nilai budaya, dalam cerita ini juga memuat unsur-unsur yang bernilai muatan politik. Namun nilai tersebut cenderung ke arah kritik terhadap pemerintah yang telah sewenang-wenang dan tidak dapat mengontrol laju pembangunan. Pejabat-pejabat mulai dari kalangan RT sampai Walikota asyik mencari keuntungan dibalik semua itu. Segala sesuatu tidak pernah dibicarakan secara terbuka dengan warga. Hal ini dijelaskan dalam paragraf 29 dalam cerita ini.

 

Saya dan lembu terus berjalan. Senti demi senti tubuh saya kian tenggelam. Pikiran saya tentang pemerintahan kota datang begitu saja. Saya marah. Pemerintahan kota tidak pernah memberitahu rencana-rencana pengembangan kota kepada warga. Hanya segelintir orang yang tahu, dan mulai memainkan nilai tanah yang dimiliki warga. Warga yang biasa hidup dalaml kalimat-kalimat pendek, hampir tak mungkin memasuki permainan seperti ini.

 

Selanjutnya dalam cerita ini pun terdapat nilai moral. Nilai tersebut menyoroti peristiwa tokoh utama yang bercinta dengan lembu yang dianggap keramat oleh warga. Hal tersebut menjadi simbol runtuhnya moral masyarakat akibat pesatnya arus pembangunan dan teknologi. Selain itu ada pula Kiai yang sering meminta sumbangan masjid dan pengajian. Banyak iuran kampung yang dipungut RT dengan tanpa dibicarakan dengan warga terlebiih dahulu. Hal tersebut sekaligus menjadi klimaks dan atau puncak cerita ini. Berikut kutipannya.

 

Birahi saya tiba-tiba bangkit. Saya dekati lembu itu. Ia melenguh dan mulai menciumi telinga saya. Hidumhnya terasa dingin. Di lehernya tergantung genta. Sesuatu memang sedang berubah di kampung ini, di kota kami. Saya mulai menciumi punggungnya, saling bergumul. Seluruh pakaian saya telah lepas. Pandangan matanya seperti roh pohon yang dicabut dari akarnya. Saya masuk ke dalam semesta itu lewat lenguhnya. Bunyi genta di lehernya membuat halaman-halaman lain mengenai keadilan. Seperti padang hijau tanpa batas. Tapi tak ada gambaran mengenai hukum di sana. Tak ada.

Setelah semuanya usai, saya lihat sudah banyak warga mengelilingi saya. Saya masih berpelukan dengan lembu itu. Masih bugil. Isak tangis istri saya terdengar. Okot menggendong anak saya. Warga kemudian menggiring saya dan lembu itu. Merekaa tak tahu ke pengadilan mana saya harus dikirim. Hukum apa yang patut dikenakan? Saya memilih dan memutuskannya sendiri. “Biarlah saya dan lembu itu menenggelamkan diri ke dasar laut.”

 

Dalam cerita pendek ini juga terdapat beberapa kode-kode di antaranya adalah kode teka-teki, kode konotatif, kode simbolik, kode aksi, dan kode budaya. Kode teka-teki salah satunya ditunjukka dengan adanya lembu dalam kehidupan tokoh Saya. Bagi pembaca, membaca cerpen ini akan banyak menimbulkan pertanyaan seputar Lembu. Lembu menjadi teka-teki bagi pembaca. Lembu merupakan metafor untuk menggambarkan keimanan tokoh Saya yang sudah kendor. Lembu menjadi gambaran sebagai runtuhnya moral, lunturnya budaya, dan rendahnya kesabaran seseorang dalam menghadapi kenyataan hidup.

Kode konotatif ditunjukkan dengan adanya makna lain di balik makna yang sesungguhnya. Salah satunya ditunjukkan dengan tokoh Saya yang melakukan adegan percintaan dengan Lembu untuk membuat makna runtuhnya iman dan budaya. Atau dengan kulkas darkblue untuk memberi makna kesedihan yang ditutupi denga kesenangan.

Selanjutnya kode simbolik. Ada beberapa simbol yang digunakan dalam cerpen ini untuk menunjukkan makna sesuatu. Salah satunya adalah Lembu yang digunakan sebagai simbol keruntuhan iman seseorang atau sebagai simbol pembawa kehancuran. Karena di balik perangainya yang sejuk, menenangkan, ada sesuatu yang buruk di dalamnya.

Kode aksi. Aksi yang dilakukan tokoh Saya dengan Lembu dapat dianggap sebagai kode aksi. Hal yang dilakukan tokoh Saya menjadi hal yang menimbulkan konflik, baik itu konflik internal tokoh maupun eksternal.

Terakhir adalah kode budaya. Ada beberapa hal dalam cerita pendek ini yang bisa dianggap sebagai kode budaya. Misalnya, masyarakat yang masih percaya kepada hal-hal yang berbau magis. Masyarakat masih mempercayai adanya kekuatan gaib yang bisa bersemayam di balik pohon.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: