SungaiBatinku

Indra Purwanugraha

 

Sajak untuk Acep Zamzam Noor

 

 

aku melihat peluru-peluru itu kaumuntahkan

dari moncong senapanmu

berupa kata

berupa warna

berupa cinta

 

aku melihatmu berperang bersama alam

bersama manusia melawan keserakahan

dari desa-desa

hingga kota-kota

bersama budaya bergerilya

 

 

Bumihijau, 2008

 

 

 Jarakku Denganmu Telah Hilang Malam Ini

 

 

kini aku sadar

bahwa malam ini telah hilang sebuah jarak

yang sejak lama menjauhkanku darimu

ketika kutanggalkan segala penutup yang melekat di tubuhku

dan kita mulai bergumul dalam ranjang harum zaitun

 

malam ini akan menjadi catatan harianku

kutulis pada lembar-lembar waktu yang siap menjadi sejarah

dan akan kukenang dan kubaca kembali dengan segala kerinduanku

dan cobalah kau mengerti bahwa setiap malam adalah rerinduku kepadamu

kepada pertemuan pertama kita di lautan jauh

 

dan akan kutafakuri setiap tetes keringat

dengan ayat-ayat yang membuatku leleh pada tatapanmu

dan akan kucatat kenangan malam ini sebagai pengakuanku

atas segala kekurangan dan kekalahanku

atas dirimu, Kekasih

 

 

Bumihijau, 2008

 

 

 Sajak untuk Indra Candra

 

 

Ada tubuh-tubuh bergelimang peluh

ada dengkur yang tak sampai memekakan malam

ada juga kau diam di sudut itu

memeluk waktu.

 

Malam tetap merangkak menuju puncak episode cerita ini

nada-nada mengalun semakin jauh

menjauh berlari dari pusat hati

lantas kita hanya bersenandung tentang raut

malam yang tak tenang

gelap yang tak pekat

 

Jam 11.15 malam. Kita masih sibuk

mengangkut mimpi ke dingin tidur kita

sementara orang-orang kerdil itu

memalingkan muka lalu melipatnya:

apa yang sedang mereka cari dari ketiadaan,

dari waktu yang hanya melintas selintas

angin menyisir pori-pori hidup kita?

 

Aku hanya menangkap kantuk yang hendak engkau

terjemahkan semisal lelah

semisal bumi yang tekun menunggu waktu

meletuskan gunung-gunung itu

menuju keabadian.

 

 

GKT, 2008

 

 

 Menuju Pagi

 

 

mari,

mari kita kemasi kantuk,

mari kita membuka diri pada kebosanan-kebosanan,

mari kita menekuni kembali mimpi-mimpi

pada letupan urat nadi.

 

menuju pagi,

mari kita semadi,

mari kita padamkan caya menerangi,

mari kita setubuh dalam gelap,

walau tak pernah tahu di mana akan lindap.

 

menuju pagi,

cuaca berubah bagai lelah,

bagai kelopak yang enggan membelah

menghadap gemerlap dalam lelap,

lalu menikam jalan hingga berlumur bagai kalap,

 

menuju pagi,

dingin masih menempel pada doa katak

yang gemeratak.

 

 

Bumihijau, 2008

 

                                      

Membaca Diarimu

 

 

Aku teringat waktu kita berkemah di hutan-hutan,

aku teringat saat kita mendaki puncak yang menawarkan keindahan,

aku teringat hari-hari musim kita menunggu panen tiba,

aku teringat saat kauhadiahkan sehirup udara ke paru-paruku dan kita

menyedot bening kehidupan di batok berisi warna-warni ikan,

agar-agar, terumbu karang, juga kulit kerang.

 

Di halaman tengah diarimu aku membaca kesedihan,

saat kita berlayar dan perahu kita menghantam bongkahan bangkai ikan, dagingnya mengeras dan bercak-bercak semacam minyak melumuri kulitnya,

lantas aku ingat saat kita mendaki dan terpeleset di curam tebing berlumpur hingga berguling bagai dadar gulung tubuh kita penuh lumpur.

Aku ingat saat orang-orang bodoh itu menghancurkan rumah-rumah pasir yang kita bangun saat kita liburan di pantai.

Aku ingat saat kita menawarkan kursi-kursi bambu yang kita jual dari hasil pelajaran keterampilan waktu kelas enam SD,

lalu kita susuri jalan hampiri setiap gerbang, setiap gang, setiap

orang-orang lalu lalang.

O…masih ingatkah kau saat kita mendapatkan Rp 2.000 dari bapak tua

yang mencintai seni, yang menyayangi anak-anak macam kita?

Lalu kita bersijingkrak kegirangan lari-lari mengacung-acungkan

Kemenangan. Saat itulah kita mengerti bahwa tiada yang lebih berharga

selain sebuah perjuangan untuk mendapatkan kehidupan.

 

Membaca diarimu,

membawaku meniti kembali tangga-tangga kenangan.

Sebuah perjalanan begitu mengesankan dengan segala pengorbanan

hanya karena cita-cita yang telah digantungkan dan siap untuk kita pecahkan,

seperti mengisi teka-teki silang kita beranjak dari kolom-kolom hitam

merangkai kebenaran yang harus diperjuangkan

mencatat sejarah demi tercapainya sebuah peradaban.

 

 

Bumihijau, 09042008

 

 

 Untuk Bandung

 

 

kualamatkan kerinduan ini ke kota batinmu

bersama kesedihan dan kebahagian yang bingung aku pilih

aku kirim dalam sebuah paket ucapan tahun baru

lengkap dengan kartu dan pita ungu

 

tak sengaja aku lewat ke rumahmu

terang cahaya ramai satelit berkedip-kedip

dan pohon-pohon menjadi pengemis

pada debu-debu dan rambatan kabel-kabel listrik dan telepon

pada jalan-jalan yang tak punya ruang hijau

 

kuangkat kembali catatan tahun-tahun silam

tentang kedamaian dan kesejukkan kampung-kampung jiwamu

tentang keasrian sejarah yang selalu engkau jaga

demi mereka para pahlawan perjuangan

kini semua telah jadi kemustahilan

 

memasuki halaman depan rumahmu

kini aku tak lagi dibingungkan kenyataan

sebab telah kurasakan kebosanan

dengan cerita-cerita pembangunan yang mengorbankan

banyak mata yang ingin melihat kebudayaan

 

 

Bumihijau, 2008

 

 

Di Pananjung

 

Tubuh-tubuh rikuh

berteduh di bawah ombak gemuruh

menyepi ke dalam mimpi.

 

Jari-jari kecil

jari-jari kaki kecil

menancap pada debu menggumpal

menyusur tapal.

 

Di Pananjung,

ombak dan gemuruh

tersangkut pada dahan bakau

dan daun pandan.

 

 

Pantai Pananjung, 2009

 

 

Laut Biru

 

Di Laut Biru aku ingin

mematikan pendingin ruangan

ingin membakar diri

dengan rambut matahari.

 

Di Laut Biru

sunset menjadi pucat

hilang jingga dalam jiwa

hilang rasa pada raga.

 

Di Laut Biru

kubiarkan luntur warna kulitku,

kubiarkan matahari membakarnya,

kubiarkan ombak menggulungnya

menjadi biru.

 

 

Laut Biru, 2009

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: